Minggu, 28 Maret 2010

KEBAYA PUTIH UNTUK ADIK PEREMPUANKU

"Hari kamis keluarganya mau datang. Cuma silaturahmi". Begitu suara di telpon pada suatu Minggu pagi. Senin, hari berikutnya, beritanya sudah berubah, "Sekalian tunangan, Bapak sudah menunjukan lampu hijau, jadi untuk apa menunggu". Perjalanannya menjadi begitu singkat, hari kamis yang direncanakan beritanya sudah sangat jelas, "Kalau bisa pernikahannya bulan Desember ini"

Beberapa tahun yang lalu di kereta dalam perjalanan ke Jogjakarta suara yang lain di telpon, "Ini pertunangan dulu, masalah menikah nunggu kamu dan Masto". Adikku yang pertama segera ber tunangan, melangkah dua kakaknya.

"Tidak perlu tunggu menunggu. Siapa yang siap dan sudah punya calon ya segera saja". Begitu jawabanku tanpa ekspresi apapun. Ya, waktu barangkali berjalan secepat Prambanan Ekspres yang sering mengantarku ke Jogja sekedar mengisi hari Minggu atau kalau ada keperluan kerja. Sekarang Adikku yang kedua segera menikah. Lalu semuanya agak tergesa-gesa . Menentukan tanggal dan tentu segala keperluan yang lain.

Beberapa tahun yang lalu aku sempat berujar, setengah bergurau, "Besok kalau kamu tunangan , akan aku buatkan kebaya warna putih, dengan rancangan terbaik". Tentu ditanggapi dengan gelak tawa. Saat itu kami semua sudah dewasa, dan adiku, perempuan satu-satunya, tentu selain Ibu, belum menikah juga. Ada semacam kebahagiaan barangkali seandainya adik perempuan segera menikah meski kami sepakat bahwa kapan dan dengan siapa kami menikah adalah masalah personal yang di antara kami tidak akan saling mencampuri.

Hari itu kemudian datang, tanggal 16 Januari 2010. Semua baju keluarga dan pernak-pernik keperluan acara pernikahan didatangkan dari Solo. Barangkali semua ada di kota kecil Tegal tapi rasanya kurang mantap dan tentu juga Solo memberi lebih banyak pilihan, begitu alasanku... Perlengkapan dekorasi pelaminan sudah digarap dua hari sebelum hari H. Semua sibuk meronce melati, sampai malam. Dua hari dua malam nyaris tidak selesai. Semua di bawah payung tema Paes Ageng Jangan Menir Jogjakarta. Keagungan Kesultanan Jogjakarta dalam bentuk yang lebih sederhana, tanpa dhodhot ageng basahan.


Tiga hari sebelumnya di kereta Kali Gung Ekspress , dus-dus berisi baju dan segala perlengkapan bertumpuk di depan kursi penumpang. Dua buah songsong keprabon, payung yang dulu dipakai oleh raja-raja mataram saat keluar keraton, ada dibawah kursi penumpang. "Mau merias pengantin ya Mas..??" seorang perempuan berjilbab bertanya. Wah kurang ajar ini, "Saya EO Mbak, Event Organizer..." Kekeke.....nasib

Jam tujuh malam proses pendekoran baru dimulai, semua dikerjakan sendiri. Yang bantu-bantu hanya bisa potong-potong bunga...belum dilatih hehehe. Jam dua malam bunga baru selesai naik ke gebyok. Melati dan detail lain baru bisa dipasang pagi. Beberapa menit sebelum acara ijab dimulai pelaminan baru selesai di dekor. Itupun menyisakan beberapa detail yang belum sempat digarap. Waktu kelihatannya sedang tidak berpihak padaku... Tapi tak mengapalah, semua terlihat beres...hehehe, tentu karena mereka tidak tahu rancangan awalnya.


Ada kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh apapun hari itu .Melihat keluargaku bisa ada dalam satu frame. Sesuatu yang sulit terjadi 18 tahun terakhir. Keluarga memang butuh sejarah. Sejarah yang akan menyatukan semua... Dan kemudian Bedhayan Pangkur Suwuk, Ketawang Kinanthi Padang Rembulan... taburan mawar, melati, kenanga mengiringi langkah mempelai menuju pelaminan...



Semuanya selesai. Ijab berlangsung khidmat... "Dengan ini aku nikahkan....". Hari itu adik perempuanku menikah, semua bahagia. Aku juga...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar