Minggu, 04 Oktober 2009

Karya Ilmiah, Makna dalam Penerjemahan (Translation)

Makna Dalam Penerjemahan

Sumardiono

S130907014

Abstrak

Makna merupakan perhatian utama dalam proses penerjermahan. Dalam proses penerjemahan, struktur permukaan (surface structure) atau bentuk bisa berubah sementara struktur dalam (deep structure) atau makna justru harus dipertahankan semaksimal mungkin. Setiap bahasa punya cara yang berbeda dalam menyanpaikan sebuah pesan. Perbedaan itu bisa pada tataran leksis maupun tataran gramatika Untuk menyampaikan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran kita memerlukan padanan yaitu kata, frasa atau klausa yang mempunyai makna sedekat mungkin dengan bahasa sumber. Beberapa jenis makna perlu dipahami seorang penerjemah agar makna teks bahasa sasaran tersampaikan secara lebih akurat. Kegagalan memahami makna kadang bahkan berakibat fatal dalam proses penerjemahan.

Makna dan Bentuk

We define meaning as the total network of relation s entered into by any linguistic form- text, item-in-text, structure, element of structure, class, term in system – or whatever it may be.

(Catford, 1980:35)

Makna merupakan bagian sentral sebuah aktifitas penerjemahan. Sebagian besar pakar penerjemahan melibatkan unsur makna (meaning) atau pesan (message) dalam definisinya tentang penerjemahan. Larson, misalnya, dalam bukunya menyatakan bahwa penerjemahan merupakan proses memindahkan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Secara explicit Larson menyatakan bahwa inti dari penerjemahan adalah pemindahan pesan. Pada bagian lain bukunya Larson juga menyebutkan bahwa penerjemahan pada dasarnya merupakan perubahan bentuk. Dari dua pernyataannya kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada yang berubah dalam proses penerjemahan tapi ada juga yang harus tetap dipertahankan.

Proses penerjemahan diawali dengan mengidentifikasi leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi dan konteks struktural teks bahasa sumber. Tahap selanjutnya adalah menganalisa untuk mendapatkan makna teks tersebut, baru kemudian merekonstruksi makna yang sama ini dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatika yang sesuai dengan bentuknya yang berterima dalam bahasa sasaran (Larson, 1984:2).

(dikutip dari Larson, 1984)

Dengan kata lain dalam prosesnya, seorang penerjemah mengubah struktur permukaan (surface structure) sebuah teks yaitu kata frasa klausa dan kalimat dalam rangka menyampaikan semirip mungkin struktur dalam (deep structure) teks bahasa sumber, yaitu makna, pesan atau informasi. Artinya, yang berubah dalam penerjemahan adalah struktur permukaan sementara struktur dalam yaitu makna justru dipertahankan semaksimal mungkin. It is meaning which is being transferred and must be constant (Larson, 1984:3).

Yang harus diketahui seorang penerjemah dalam proses rekonstruksi bentuk bahasa sumber ke bentuk bahasa sasaran adalah bahwa setiap bahasa punya cara yang berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan yang sama. Perbedaan itu bisa pada tataran leksis maupun tataran gramatika. Untuk menyatakan informasi yang sama, misalnya bahwa si pembicara menderita pusing, seorang pembicara bahasa Inggris akan mengatakan, “I have a dizzy”. Orang Indonesia mungkin akan mengatakan, “Kepala saya pusing”. Sementara orang Jawa mengatakan, “Sirahku mumet”. Artinya apabila kita menerjemahkan kalimat bahasa Inggris di atas dengan terjemahan literal, “Saya mempunyai rasa pusing” atau “aku nduwe rasa mumet” maka penutur bahasa Indonesia dan Jawa akan merasa kalimat itu tidak lazim bahkan mungkin pada kasus-kasus tertentu akan terjadi kesalahpahaman. Pengunaan leksis mempunyai untuk menyatakan rasa sakit tentu tidak lazim atau tidak berterima dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Pada tataran gramatika, sintaksis, jelas bahasa Inggris menggunakan struktur kalimat verbal sementara bahasa Indonesia dan Jawa memilih menggunakan kalimat nominal. Pilihan ini sama skali bersifat arbriter. Seorang penerjemah tidak bisa selalu terikat oleh bentuk leksikal maupun gramatikal bahasa sumbernya. Bila ia gagal melakukannya maka hasil terjemahan akan terdengar tidak wajar menurut penutur bahasa sasaran.

Pada tataran leksis kata merupakan sebuah paket komponen makna yang di kombinasikan pada elemen leksis. Sementara komponen makna dikemas secara berbeda pada setiap bahasa (Larson, 1984:55). Proses penerjemahan juga menjadi rumit mengingat tidak ada kata yang mempunyai mempunyai komponen makna persis dari satu bahasa ke bahasa lain. There is no one-to-one correspondence between orthobraphic words and elements of meaning within or across language. (Baker, 1992:11) Jadi seorang penerjemah harus mengurai komponen makna sebuah kata BSU sebelum dia merepresentasikannya kembali kedalam BSA. Kata stallion misalnya mengandung komponen makna kuda dan jantan. ketika kita menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak memiliki sebuah kata yang mengandungi kedua komponen makna tersebut, kita ‘terpaksa’ menggunakan dua kata yaitu ‘kuda jantan’ untuk merepresentasikan kata stallion. Ini terjadi mungkin karena kultur bahasa Inggris berkecimpung banyak dalam bidang perkudaan sehingga mereka mempunyai leksis yang kaya dalam bidang ini. Palmer dalam Baker menyatakan bahwa kata-kata pada sebuah bahasa tidak merefleksikan realitas dunia, melainkan merupakan cerminan ketertarikan orang-orang pemakai bahasa tersebut. (Baker, 1992:18)

Pada kasus-kasus yang lebih kompleks, seorang penerjemah harus sangat berhati-hati ketika beurusan dengan makna.Mengalihkan bentuk sebuah bahasa secara literal kedalam bentuknya pada bahasa lain sering akan mengubah maknanya sama sekali (Larson, 1984:19) Ini juga yang membuat peroses penerjemahan menjadi kompleks, terutama ketika seorang penerjemah berhadapan dengan bentuk-bentuk metafora atau makna konotatif. Kalimat ‘He is like a dog’ secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti ‘Dia seperti anjing’. Pernerjemahan di atas jelas menimbulkan bias makna yang fatal. Makna ‘dia orang yang sangat setia’ menjadi hilang, tidak tersampaikan, karena penerjemah tidak berhasil menangkap makna dan pesan dari kalimat tersebut. Mestinya seorang penerjemah akan berusaha mencari maksud dari ungkapan itu dengan cara memahami budaya teks bahasa sumber. Makna yang menggambarkan kesetiaan tertangkap bila kita memahami bahwa anjing merupakan symbol kesetiaan dari kultur barat.

Pada kasus lain, misalnya, seperti yang dicotohkan Suryawinata (2003) sebuah ungkapan pada kitab injil dalam versi bahasa Inggris terdapat sebuah ungkapan “lamb of God” yang dalam bahasa Indonesia bias diartikan “domba Allah. Penerjemahan kata “lamb” menjadi “domba’ dalam bahasa Indonesia tidak menjadi masalah karena dalam metafora bahasa Indonesia kata “domba” mengandung pesan suatu gambaran ketidakberdosaan. Ketika ungkapan ini diterjemahkan ke dalam bahasa orang Eskimo, penerjemahan “lamb” menjadi domba dalam bahasa mereka menjadi bermasalah karena dalam keseharian mereka tidak mengenal domba. Seorang penerjemah, oleh karena itu, harus mencari kata, dalam bahasa mereka, yang bisa merepresentasikan makna “ketidakberdosaan”. Kata “anjing laut” dipilih untuk padanan kata”lamb” karena dianggap bias merepresentasikan makna di atas sehingga bentuk terjemahan dalam bahasa orang Eskimo ungkapan “lamb of God” menjadi “anjing laut Tuhan”

Perbedaan pilihan bentuk leksis maupun gramatika dari satu bahasa dan bahasa lainnya menyadarkan seorang penerjemah untuk slalu berhati-hati dalam memindahkan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran. Jelaslah kiranya bahwa kesamaan bentuk dan makna yang sepenuhnya sejajar sulit dijumpai dalam penerjemahan. (Machali, 2000:144)

Makna dan Padanan

Makna sering dirancukan dengan padanan. Makna bisa kita bayangkan sebagai roh sebuah kata, frasa maupun klausa. Sementara padanan adalah kata dalam bahasa lain yang mengandungi komponen makna yang nyaris sama atau berdekatan dengan kata, frasa atau klausa tersebut. Mari kita ambil beberapa contoh berikut.

Bahasa sumber

Makna

Padanan dalam bahasa Inggris

Father

Leluhur pertama laki-laki

Bapak

Son

Keturunan pertama laki-laki

Anak laki-laki

I had a very good time

Si pembicara merasa gembira saat itu

Saya senang sekali saat itu

An eye for an eye

Sebuah perbuatan harus dibakas persis setimpal

Nyawa dibalas nyawa

Kata father dalam bahasa inggris memiliki makna leluhur pertama laki-laki. Artinya, kata father dalam bahasa Inggris memiliki dua komponen makna yaitu ‘leluhur pertama’ dan ‘laki-laki’ Secara struktur permukaan ini disimbolkan oleh graphology F-A-T-H-E-R bila muncul dalam bentuk tulisan. Dalam bentuk lisan ia direalisasikan dalam urutan phonology yang membentuk bunyi kata tersebut. Di dalam bahasa Indonesia, kita ‘kebetulan’ bisa menemukan sebuah kata yang memiliki komponen makna sama persis dengan kata tersebut dalam bahasa Inggris yaitu ‘bapak’. Kata father dalam bahasa Inggris, dengan demikian, memiliki padanan yang berimpit dalam bahasa Indonesia, yaitu ‘bapak’. Kasus demikian tidak selalu muncul di mana sebuah kata dalam satu bahasa memiliki komponen makna yang sama dalam bahasa lain. Bila hal ini merupakan sebuah hal umum tentu proses penerjemahan menjadi jauh lebih sederhana.

Kasus berikutnya adalah kata ‘son’. Kata ini bermakna keturunan pertama laki-laki. Artinya kata ‘son’ memiliki dua komponen makna yaitu ‘keturunan pertama’ dan ‘laki-laki’. Pada bahasa Indonesia, kita tidak bisa menemukan sebuah kata dengan komponen makna yang persis sama. Inilah yang sering terjadi pada tahap penerjemahan di mana sebuah konsep tidak bisa ditemui padana kata perkatanya dalam bahasa sasaran. Dalam bahasa Indonesia, kita hanya bisa menemukan kata yang mempunyai komponen makna keturunan pertama, tanpa ada komponen gender, yaitu ‘anak’. Kata ini merupakan bentuk super ordinat dari bentuk ‘son’ dalam bahasa Inggris. Dengan menambahkan bentuk super ordinat ‘anak’ dengan penambahan komponen makna tambahan gender ‘laki-laki’ kita menemukan padanan kata ‘son’ yaitu ‘anak laki-laki’.

Kata ‘son’ memiliki padanan ‘anak laki-laki’ dalam bahasa Indonesia. Di sini terjadi perubahan tataran gramatika antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Sebuah kata ekuifalen dengan sebuah frasa dalam bahasa lain. Pergeseran unsur gramatika dalam proses penerjemahan adalah hal yang lazim terjadi apabila penerjemah tidak menemukan padanan kata perkata.

Pada contoh 3 dan 4 pergeseran tidak saja pada tataran gramatika tapi juga pada tataran semantik. We had a good time’ tidak bisa secara serta merta diterjemahkan ‘Kami mempunyai waktu bagus’. Dalam bahasa Inggris ungkapan di atas digunakan untuk menyatakan bahwa ‘si pembicara gembira sekali pada saat itu’. Padanan yang lebih komunikatif bisa diungkapkan dengan ‘kami gembira sekali’ atau bahkan mungkin ‘Acaranya menyenangkan sekali’. Di sini kita melihat banyak pergeseran unsur semantik pada kedua padanan tersebut. Makna kata ‘good’ dan ‘time’ secara harfiah tidak terekam pada ungkapan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Pada kasus 4 perubahan unsur-unsur semantik bahkan lebih radikal. Ini tentu karena padanan sebuah ungkapan atau peribahasa harus melalui proses yang lebih rumit. Ungkapan ‘An eye for an eye’ harus kita pahami dulu makna konotatifnya. Setelah kita pahami makna konotatifnya yaitu ‘Setiap perbuatan harus mendapat balasan yang setimpal’, barulah kita mencari ungkapannya yang maknanya sama dan lazim digunakan dalam kultur penutur bahasa Indonesia. Ungkapan ‘Sebuah mata untuk sebuah mata’ bukanlah ungkapan yang lazim untuk penutur bahasa Indonesia. Penutur bahasa Indonesia lebih sering mengungkapkannya dengan kalimat ‘Nyawa dibalas nyawa’.

Penjelasan di atas menerangkan bahwa makna berbeda dengan padanan. Makna adalah unsur dalam sebuah elemen bahasa; kata, frasa maupun klausa. Sementara padanan adalah elemen bahasa; kata, frasa maupun klausa yang mengandung makna yang sama dalam bahasa lain.

Beberapa Jenis Makna

Karena kata, frasa dan kalimat bisa secara sekaligus mempunyai beberapa makna, seorang penerjemah perlu memperhatikan dan memahami berbagai jenis makna yang mungkin muncul pada kata, frasa, klausa atau kalimat. Di sini disajikan beberapa jenis makna yang penting yang perlu dipahami seorang penerjemah di samping beberapa jenis makna yang lain juga tentu perlu dikuasai

Makna Referensial dan Makna Organisasional

Ketika kita mendengar kata kursi, yang terbayang dalam pikiran kita adalah sebuah tempat untuk duduk, terbuat dari kayu atau lainnya. Kita menyebut benda itu kursi karena orang orang mengatakannya demikian. Kata kursi mengacu pada benda pada pengalaman sehari-hari kita, maka dari itu kita sebut makna acuan/referensial. Ini merupakan jenis makna yang paling pokok dan menjadi acuan sebuah kata sebelum kita menghubungkannya dengan makna-makna yang lain. Beberapa pakar lain, seperti Nababan dan suryawinata, menyebut ini dengan nama makna leksikal atau makna seperti yang tertera di dalam kamus. Makna referensial atau leksikal bersifat mandiri. Artinya, makna referensial atau leksikal bersifat individual yang membedakannya dengan kata lain seperti yang disampaikan Zgusta dalam Baker (1992:12) bahwa setiap kata atau unit leksikal mempunyai sesuatu yang bersifat individual yang membuatnya berbeda dengan kata lain dan makna leksikallah yang merupakan perangkat individual yang paling outstanding dari sebuah kata.

Makna referensial disusun kedalam sebuah struktur semantic. Bundelan informasi ini dikemas dan kemudian bersama dengan unsure-unsur leksikal lain disusun untum membentuk sebuah struktur yang lebih besar. Ini bisa dari sebuah kata monomorphemic menjadi kata lain yang polymorphemic misalnya ‘besar’ menjadi membesar atau dari sebuah kata menjadi frasa, klause kalimat dan seterusnya. Ketika sebuah unit leksikal kemudian diletakan kedalam sebuah struktur gramatikal yang lebih besar maka timbulah makna gramatikal atau makna organisasional. Sperti yang di sampaikan oleh suryawnata (2003) bahwa makna gramatikal adalah makna yang yang diperoleh dari bentukan, atau susunan atau urutan kata dalam frasa atau kalimat.

Makna gramatikal atau organisasional juga menentukan acuan sebuah kata pada sebuah kalimat. Makna ini bisa ditandai denga deictic, pengulangan, pengelompokan atau perangkat lain pada struktur gramatikal sebuah tekx (Larson, 1982: 37). Dari dua proposisi Marry peeled an apple dan Marry ate an apple, kita bias membuat beberapa pernyataan sekaligus. Bila yang kita maksud hanya ada satu Marry dan satu apel, kita akan menyusunya menjadi: Marry peeled an apple and then she ate it. Penggunaan pronominal she dan it menunjukan bahwa hanya ada satu Marry dan satu apel. Tapi bila yang kita maksud ada satu Marry dan dua apel yang berbeda kita myesunnya sebagai berikut; Marry peeled an apple but she ate another one. Demikian juga apabila yang kita maksud ada dua Marry dan satu apel, maka kita menyusunnya menjadi: Marry peeled an apple and then the other Marry ate it. (Larson, 1984:37)

Makna Situasional/Kontekstual dan Makna Tekstual

Ketika memahami sebuah teks pemahaman kita tidak mungkin hanya berhenti pada makna referensial dan organisasional karena pesan sebuah teks lahir dari suatu situasi kemunikasi yang spesifik. Larson (1984) mengatakan bahwa situasi di mana sebuah kata digunakan juga sangat penting terhadap makna keseluruhan sebuah kata.

Makna juga kemudian muncul secara berbeda tergantung siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara dan dalam situasi seperti apa teks itu muncul.

Kemudian lebih jauh makna sebuah teks maupun ujaran juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural serta status sosial masing-masing yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Ungkapan “White as a snow” akan sulit di pahami oleh seseorang yang hidup di wilayah yang tidak mengenal salju. Seorang penerjemah harus berpikir keras mencari sifat apa yang disimbolkan dari kata salju dan kemudian mencari padanannya yang sedekat mungkin sesuai dengan kultur bahasa target. “Putih seputih kapas” mungkin padanan yang paling mendekati untuk bahasa di mana masyarakatnya mempunyai basis kultur agraris. Untuk bahasa dengan basis kultur yang berbeda mungkin “putih seputih awan” menjadi padanan yang tepat. Seorang penerjemah harus menyadari sebuah kata atau ungkapan oleh konteks situasi atau budaya (Larson, 1984:131)

Makna sebuah kata juga ditentukan oleh hubungannya dengan unit-unit lain pada sebuah teks. Suryawinata (2003) mangatakan bahwa makna tekstual adalah makna yang timbul dari stuasi atau konteks di mana frasa, kalimat atau ungkapan tersebut dipakai. Bahkan perbedaan genre suatu teks pun ikut menentukan makna seperti yang dikatakan Nababan (2003) bahwa makna tekstual berkaitan dengan isi suatu teks atau wacana dan perbedaan jenis teks dapat pula menimbulkan makna suatu kata menjadi berbeda.

Kata bear, misalkan, ketika muncul pada teks yang berbeda akan memperoleh makna yang berbeda pula. Seperti yang dicontohkan oleh Machali (2000):

1) I can’t bear it anymore

2) She can’t bear children, since her womb was removed during a cancer operation.

3) He shot a bear among the trees.

Pada contoh nomer satu di atas nampak kata ‘bear’ berarti ‘tahan’ atau lengkapnya Saya tidak tahan lagi’. Sementara pada kalimat kedua ‘bear’ berarti ‘melahirkan’, dalam konteks melahirkan bayi. Bahkan pada kalimat ketiga kata yang sama ‘bear’ berfungsi sebagai kata benda yang berarti ‘beruang’. Seorang penerjemah yang tidak memperhatikan bagaimana sebuah kata muncul bersama kata-kata lainnya di dalam teks akan mengalami kesulitan untuk menentukan makna yang tepat sebuah kata. Bahkan pada kasus-kasus tertentu bisa berakibat fatal bagi proses penerjemahan.


DAFTAR PUSTAKA

Larson, Mildred A. 1984. Meaning-Based Translation. Lanham: University Press

of America.

Machali, Rochayah. 2000. Pedoman bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.

Nababan, M. Rudolf. 2003. Teori Menerjemah Bahasa Inggris. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Suryawinata, Zuchridin & Sugeng Hariyanto. 2003. Translation: Bahasan Teori

dan Penuntun Praktis Menerjemahkan. Yogyakarta: Kanisius.

Baker, Mona. 1997. In Other Words : A Course Book on Translation. London:

Roudledge.

Catford, J. C. 1980. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford

University Press.


Domba Allah

Lamb of God

Anjing Laut Tuhan

3 komentar:

  1. Wawan Kristyanto, Nim 08521089. FKIP B. Inggris Unisri

    terima kasih atas paparanya tentang metode penterjemahan, memang untuk menterjemahkan suatu bahasa asing mempunyai beberapa syarat misalnya mengerti arti suatu kata secara luas maksudnya, karena makna kata bisa berubah. tergantung kontek kalimatnya. ini berpengaruh sekali ketika orang menerjemahkan perkata dengan menterjemahkan satu rangkaian kalimat. syarat penerjamah lain adalah mengetahui budaya dari bahasa yang akan di terjemahkan, dia harus mengerti ungkapan, peribahasa, idiom, dan biasanya hal itu di ucapkan pada puisi. ada pendapat seseorang bisa di katakan mahir dalam menerjemah bila ia bisa menerjemahkan puisi, sajak, syair yang mana biasanya menggunakan bahasa yang asli dan mempunyai muatan makna yang tinggi. kita ambil contoh "orang itu banyak makan garam" mungkin orang inggris akan menerjemahkan "the people eat a lot of salt" padahal kalau kita memahami garam dalam kalimat tersebut adalah pengalaman. jadi benar apa yang pak Dion sampaikan untuk menterjemah bahasa itu harus banyak yang di pelajari tidak hanya kamus namun juga budaya perlu dipelajari sehingga terjemaha akan akurat dan dapat di terima maknya.

    BalasHapus
  2. Nurqolis
    FKIP Bahasa Inggris

    wah terasa seperti kuliah 3 jam, ketika membaca tulisan pak Dion. kalau seandainya ada jam kosong kemudian dosen memberi wawasan seperti pak Dion untuk membaca blognya, maka jam kosong tersebut seperti tidak kosong. karena kalau kita memahami tulisan diatas maka kita punya modal untuk menterjemahkan. untuk bisa memahami dan menterjemahkan bahasa asing kita tidak cukup mengandalkan kamus dengan mencari arti perkata. memang ini membantu tetapi alangkah baiknya bila kita mempelejari budaya dialek mereka. ini yang membutuhkan waktu dan pengalaman untuk menjadi penerjemah yang relevan dan dapat di terima makna terjemahanya. saya mau tanya apa pak Dion punya artikel tentang kebiasaan cara berbicara orang inggris atau Puisi yang di tulis orang inggris jaman dahulu. terima kasih pak atas penjelasan tentang metode menerjemah serta kode etiknya akar terjemahan bersifat akurat, dan di terima maknanya

    BalasHapus
  3. pasih maksudnya Larson tentang implicit meaning dan kemudian membaginya dalam 3 bagian? tolong don... di jelasian !!!!

    BalasHapus