Senin, 05 Oktober 2009

PULANG KAMPUNG LEBARAN














































PULANG KAMPUNG adalah ritual tahunan yang tidak mungkin kami hindari. Bagi keluarga kami, inilah satu-satunya waktu kami bisa berkumpul dengan seluruh keluarga. Kami semua lima bersaudara dengan pekerjaan dan aktifitas kami masing-masing. Beberapa tinggal di luar kota dan beberapa sudah berkeluarga. Sulit bisa kumpul bareng kalau tidak semuanya pada libur seperti ini.

Saat yang paling berkesan adalah ketika kami semua berkumpul. Kami teringat kembali saat semua masih anak-anak dan tinggal di sebuah kampung kecil di kota kecil yang bernama Slawi. Tentu seperti anak-anak kampung lainnya, kami bermain di sawah, di sungai. Dulu masih banyak lahan kosong yang menjadi ajang bermain. Sekarang semua lahan habis dibangun rumah. Entah rumah-rumah siapa. Aku tidak mengenal sebagian besar dari mereka. Mungkin mereka pendatang atau orang kampung situ yang kemudian beranak pinak. Tiga rumah sebelah kiri rumah terbentang sawah sampai desa berikutnya. Sawah tempat dulu kami dan teman sekampung bermain. Mencari sisa batang tebu setelah panen tebu atau sekedar menghabiskan sore pas musim layang-layang tiba. Ah...semuanya senang, tanpa beban. Cuma ada satu yang bisa menakut-nakuti kami, legenda bedhogan. Ya, penculik anak-anak dengan menaiki mobil Jeep dengan tanda gambar gunting pada kaca depan. Hahaha...ada ada saja...penculik memakai tanda. Tapi begitulah dunia kami kala itu, masih diliputi mitos-mitos. Sekitar dua ratus meter dari rumah ada sungai. Ya, sungai yang legendaris di daerah kami, Kali Gung. Nama yang sekarang digunakan untuk nama kereta api kelas bisnis dan ekonomi. Kalau kita kebetulan bepergian dari Tegal ke Semarang atau sebaliknya, kita bisa memakai kereta ini. Ah, sungai itu memberi begitu banyak inspirasi masa kanak-kanak kami. Memancing, sekedar kungkum atau mencari udang. Udang tangkapan dibakar dengan selongsong pohon bambu atau untuk udang-udang kecil sekedar diletakan di atas batu panas di bawah terik matahari. Nyam.. nyam, bergizi dan nikmat. Ada saat-saat tertentu sungai ini diracun. Ikan besar kecil pada mabuk. Kami anak-anak riang bukan kepalang. Menangkapi ikan-ikan sekarat itu. Kami tidak tahu menahu betapa kejamnya para peracun itu. Mana kami tahu, kami anak-anak kecil yang tahunya senang pulang bawa banyak ikan tanpa susah payah. Padahal para penjala ikan menggantungkan hidup dari ikan-ikan di sungai itu.

Kampung halaman kami sekarang sudah jauh berubah. Dulu kampung ramai oleh anak-anak kecil. Tidak ada pagar yang membatasi masing-masing rumah. Sekarang hampir semua rumah berpagar beton, kelihatan rapi memang. Tapi kemudian tampak lengang dan dingin. tidak banyak anak-anak dan tetangga yang berlalu lalang. Pasar Topi yang dulu menjadi trade mark kampung kami pun sekarang telah kehilangan penghuninya. Padahal pasar yang pada awal sejarahnya sebagai tempat jual beli topi caping dari bambu untuk petani itu dulu riuh dengan pedagang dan pembeli yang datang dari kampung dan desa sekitar. Di sana ada segala jenis panganan lokal yang sekarang sudah susah ditemui. Ada rujak teplak, sejenis pecel dengan sambal campuran singkong rebus. Ada ondol-ondol, semacam combro dari tepung gaplek. Ada berbagai macam gemblong, nama lokal untuk getuk singkong. Ya.. itulah masa lalu yang mungkin tinggal menjadi kenangan kolektif kami yang yang lahir dan dibesarkan di sana.

Untung lebaran ini Siti yang bantu-bantu di rumah kami tidak libur terlalu lama jadi kami tidak terlalu disibukan dengan pekerjaan rumah. Kami biasanya ngobrol di ruang tivi yang letaknya di sebelah dapur. Itulah ruang favorit kami, bisa ngobrol sambil makan apa saja. Di teras samping kami bisa ngobrol-ngobrol dan membiarkan Au sama Ian, keponakan kami, melatih kaki-kaki dan tangan mereka menjejak dunia. Kadang kami mengundang pedagang yang lewat, bisa bakso, rujak teplak n mi sambel yang untungnya masih ada penjualnya.

Ada satu kebiasaan lagi waktu pulang kampung, ....berkebun. Bisa seharian aku mengurus tanaman. Hasilnya... bisa dilihat di foto. Rumah jadi kaya di tengah hutan. Rungkut,..tetangga pada bilang...hahaha. Tapi banyak temen yang pingin datang ke rumah. Ngajak barbeque-lah, ngajak rujakanlah. Ini juga yang sering jadi pangkal ribut dengan Bapak. Dia tidak suka rumah terlalu rimbun.... omah kok koyo alas.... Hahaha... kampungku oh kampungku....See you next year

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar